Wanita-wanita Sukses
SUARA MERDEKA | JUMAT, 3 JANUARI 1997
Wanita Sukses Luar – Dalam
Judul Buku: Wanita-wanita Sukses
Penyunting: Amir Machmud NS dkk
Pengantar: Drs Sutrisna
Penerbit: Mimbar Media Utama Semarang
Tahun Terbit: Desember 1996
Tebal: 130 hlm
BUKU Wanita-Wanita Sukses ini berisi kisah-kisah atau riwayat kesuksesan para wanita terpilih. Pengertian sukses memang relatif. Namun tak bisa dimungkiri, jika predikat itu melekat pada wanita, maka sudah pasti ia adalah wanita karier (profesional).
Kata kunci ini yang pada umumnya menjadi patokan dasar. Patokan lain adalah pendamping setia suami, ibu yang baik dan bijaksana bagi anak, aktif di organisasi, dan sebagainya.
Delapan belas tokoh wanita sukses yang termuat dalam buku ini merupakan tokoh pilihan pada penerbitan pertama. Kenapa hanya 18? Alasan penerbit dalam kata pengantarnya, menyangkut pembatasan halaman saja agar tidak terlampau tebal.
Berbagai lapangan publik mampu dirambah oleh wanita. Dari komisaris perusahaan, manajer, konsultan, pengacara, bagian penasaran, wartawan, politikus, sampai menteri. Juga pekerjaan-pekerjaan keras seperti sopir bus malam dan kondektur.
Demikian Drs Sutrisna, Pemimpin Redaksi Harian Suara Merdeka dalam Kata Pengantar buku ini.
Mereka yang menghiasi buku Wanita-Wanita Sukses ini adalah Tina Nindyawati (distributor FYI, konsultan), Honest Sri Murtini (Kabid Sosbud Bappeda Kodya Semarang), Sri Redjeki Hartono (dosen), Amelia A Yani (pengusaha), Ninik Bonite (pengusaha), Erry Wahono (aktivis berbagai organisasi), Asri Yoelati (wakil inspektur bank), Sita Setyaningsih (Direktur Bidang Umum PDAM Semarang), Andini Soedibyo (Direktur Utama), Atmawati (dosen), Endang Rumarningsih (dosen), Rahayu Panggaryo (pendidik, dosen), Maria Ermawati Herman (marketing manager), Liliana Prakusya (pengusaha), Magdalena Sukartono (direktris, aktivis sosial), Ninik Wijayanti (pengusaha), Harini K Trisnadi (Kabag Humas Kota Semarang), dan Djuliati Soerojo (ketua yayasan/dosen).
Antara Keluarga dan Karier
Wanita sukses memang dituntut menyimbangkan antara tugas (kepentingan) keluarga dan karier. Keduanya mesti sama-sama berjalan dengan baik pada rel masing-masing. Apa gunanya karier, jika tugas keluarga terbengkalai. Apa artinya sibuk di pelbagai organisasi profesi dan kemasyarakatan, jika anak-anak di rumah seperti anak ayam kehilangan induk.
Ninik Bonite (32), pengusaha Hotel The Queen of South Hotel Parangtritis, bercerita tentang kehidupan keluarganya yang bahagia.
“Jadi di mana pun kita berada, enjoy rasanya. Saya merasa begitu beruntung dikaruniai suami seperti dia. Kalau saya pergi ke luar kota, anak-anak tidak begitu kehilangan saya. Karena suami saya bisa melakukan apa yang biasa saya lakukan. Begitu pun sebaliknya.” katanya (hlm.43).
Lain lagi kisah Erry Wahono, orang penting di PT Adhitama Raya Industries dan pengurus ICMI Jateng. “Meski sibuk, saya tidak melupakan waktu untuk anak dan suami. Tidak harus bertemu empat mata, lewat telepon jadi. Itu penting untuk mengharmoniskan kehidupan keluarga,” ungkap wanita kelahiran Magelang ini (hlm.47).
Sedangkan Asri Yoelati (55), Wakil Inspektur BRI Kantor Inspeksi Semarang, berujar: “Sebagai wanita karier sekaligus ibu rumah tangga, saya harus bisa menunjukkan kualitas dan kemampuan kerja dua kali lipat lebih baik dan lebih bermutu daripada laki-laki. Selepas dari kantor, saya tidak membawa masalah-masalah kantor ke rumah. Jadi, kalau di rumah ya saya sebagai ibu rumah tangga. Kecuali ada pekerjaan-pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat, baru saya bawa ke rumah. Tapi itu saya kerjakan setelah anak-anak tidur.” (hlm.57-58).
Demikianlah, wanita-wanita itu begitu semangat dalam menjalani dan mengarungi hidup dan kehidupan ini. Mereka dengan karya nyata berhasil membuktikan peran dan posisinya sebagai wanita yang berhasil di lingkungan keluarga, pekerjaan (karier), dan organisasi kemasyarakatan. Tanpa meninggalkan kodratnya, mereka bisa berdiri sejajar dengan kaum pria.
Wanita memang dituntut berperan lebih daripada pria. Yang terpenting adalah menyelarasakan kehidupan di dalam dan di luar rumah dengan penuh keyakinan dan kearifan.
Menurut Sita Setyaningsih (47), Direktur Bidang Umum Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Semarang, setiap persoalan yang muncul baik di kantor maupun di rumah, akan dihadapi dengan penuh keyakinan dan kearifan, sehingga keputusan yang diambil akan lebih bersifat positif, tidak emosional, dan dapat memecahkan persoalan tersebut, tanpa merugikan orang lain.
Lebih lanjut wanita yang bersuamikan Yuwono Subianto dan ibu dari dua putri ini menegaskan, “Jika menghadapi masalah di rumah tangga, saya selesaikan dengan cara musyawarah dengan keterbukaan dan penuh pengertian. Demikian pula persoalan yang timbul dalam pekerjaan kantor, saya mencoba mencari pangkal persoalannya, kemudian berusaha mencari way out-nya yang terbaik.” (hlm 60).
Harini K Trisnadi (38), Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Pemerintah Kota Madya Daerah Tingkat II Semarang memiliki cara khusus menghadapi konflik yang timbul di kantor dan di rumah tangga. “Biasanya saya merenung, mencoba menganalisis dan berdialog dengan diri sendiri, kemudian mengambil kesimpulan dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan yang Mahakuasa dan Adil, baru kemudian mengambil keputusan, tentu saja terlebih dahulu mengajak musyawarah,” ungkapnya (hlm.124).
Emansipasi inilah yang senantiasa didengung-dengungkan pada zaman yang makin kompleks ini. Bertolak dari alasan emansipasi, wanita bisa melangkah lebih jauh ke berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi dan industri. Wanita dapat berperan dalam pembangunan, masuk ke berbagai bidang profesi yang sederajat dengan kaum pria. Namun, apakah emansipasi itu berarti perambahan dunia tanpa batas atau justru emansipasi itu tak realistis? Simaklah pernyataan Sri Redjeki Hartono (54), guru besar Hukum Dagang FH Undip dan Ketua Program Notariat Undip ini: “Soal emansipasi, kita tak boleh gebyah-uyah. Emansipasi dalam arti yang sebenarnya itu saya kira tidak realistis. Menurut saya, sangat individual. Saya, misalnya, terus menempatkan diri sebagaimana fungsi saya. Fungsi saya kan istri dan ibu. Kalau di luar rumah mau malang-melintang, lain lagi. Kalau saya di rumah, tetap orang kedua. Kepala rumah tangga tetap satu. Kalau kepala rumah tangga dua, kan lucu. Nanti bertengkar terus.” (hlm 23).
Sri Redjeki selanjutnya berkisah tentang apa yang terjadi di rumah. Saat ia tugas belajar di luar kota atau luar negeri dalam waktu cukup lama, “Ibu yang menggantikan kedudukan saya di rumah saat saya pergi belajar. Jadi jujur saja, emansipasi saya itu kan di atas emansipasi orang lain.”
“Coba pikir, saya harus pergi ke luar kota atau ke luar negeri, yang menjaga rumah dan menggantikan kedudukan saya siapa. Kan harus ada yang mewakili. Mungkin ibunya. Kalau tidak ada ibunya, mungkin pembantu. Jadi, emansipasi itu sebenarnya…”
Berbeda dari Andini Soedibyo (54), Direktur Utama PT Astind Marina Graha Semarang ini mengungkapkan, emansipasi wanita tak saja mengekspose soal wanita-wanita karier atau wanita-wanita yang mempunyai kemandirian dalam berkarier. Tak hanya memperjuangkan haknya untuk sejajar dengan kaum pria, tapi juga memperjuangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita.
“Seperti mengangkat keberadaan pembantu rumah tangga, khususnya wanita dari pedesaan. Jarang sekali diekspose tentang apa-apa yang ada di balik profesi itu. Bisa jadi, menjadi pembantu rumah tangga adalah pelarian dari kepedihan.” (hlm 68).
Demikianlah berbagai aspek menarik yang melingkupi dunia wanita diungkapkan oleh wanita-wanita terpilih. Yang paling menonjol adalah persoalan peran wanita di dalam dan di luar rumah. Tokoh-tokoh yang terpilih dalam buku ini merupakan teladan yang menarik untuk dikaji dan disimak. Pendeknya, mereka merupakan wanita-wanita yang sukses luar-dalam.
Buku ini memang perlu dibaca, tidak hanya oleh wanita, tetapi juga kaum lelaki, agar bisa memahami dan lebih toleran terhadap semua aktivitas kaum wanita. Demikian Sutrisna, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka, menutup Kata Pengantar dalam buku ini. (Imron Samsuharto-18)