Suara Merdeka, Kamis 23 November 2000.

Peluncuran Buku “Ilmu Sastra: Ruwet, Rumit, dan Resah” Karya Yudiono KS

Ilmu Sastra di Tengah Kawin Perak

SETIAP orang tentu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dan, bagi orang tua, taka da yang lebih membahagiakan kecuali mempertahankan perkawinannya hingga anak-anak dewasa, berkeluarga, dan mampu meneruskan keturunannya.

Kebahagiaan semacam itulah yang dirasakan oleh Yudiono KS bersama istrinya, Kismarmiati, yang pada Minggu siang 19 November 2000, merayakan Kawin Perak di kediamannya Jl Soeratmo 488 Semarang. Acara itu pun ditandai dengan peluncuran buku ke-7 karya Yudiono KS, Ilmu Sastra: Ruwet, Rumit, dan Resah, yang diterbitkan oleh Mimbar Media Utama Semarang.

“Buku ini merupakan refleksi perjalanan kehidupan rumah tangga selama 25 tahun,” papar dosen Fakultas Sastra Undip itu mengawali diskusi, yang dihadiri antara lain Dekan FS Undip Prof Dr Th Sri Rahayu Prihatmi, para dosen, wartawan, dan kerabat dekat yang lain.

Acara “pesta” itu pun bergulir dengan memperbincangkan buku Yudiono KS, yang dikenal juga sebagai kritikus sastra dan sastrawan. “Ilmu sastra itu tidak ruwet, hanya kian canggih. Hal ini sejalan dengan perkembangan dunia dan kehidupan yang makin kompleks dengan persoalan manusia,” kata Prof Prihatmi.

“Ilmu sastra sejalan dengan karya sastra. Karya sastra  modern dan postmodern itu makin canggih, karena itu ilmu sastra pun makin canggih. Untuk mengapresiasi karya Iwan Simatupang, Putu Wijaya, dan Danarto, pembaca akan tersesat kalua masih memakai teori atau ilmu sastra yang konvensional,” jelas Dekan yang juga kritikus dan pengarang itu.

Buta Budaya

Karya sastra dan dunia sastra itu dunia berpikir. Sedangkan masyarakat telanjur sebagai penikmat. Meskipun masyarakat sudah melek huruf, tapi mereka masih buta budaya. “Artinya, berhadapan dengan ide-ide dan imajinasi yang membingungkan, masyarakat tidak mau mengembangkan penalaran dan pemikirannya. Akibatnya, buku-buku sastra sangat terpencil dari masyarakat,” kata Drs Redyanto Nor MHum, Ketua Jurusan Sastra Indonesia FS Undip.

Supaya sastra tidak berdiri di menara gading, menurutnya, para pakar sastra dan ilmuwan sastra serta sastrawan perlu memperlebar dialog dan apresiasi ke lapisan masyarakat.

“Saya berharap dalam waktu dekat FS Undip terbuka. Artinya, memberikan kesempatan kepada para penyair, sastrawan, dan peminat sastra untuk saling berbincang  di dalam kampus,” harapnya.

Dengan keterjalinan mereka yang bergelut di bidang akademisi dan praktisi, menurutnya, kehidupan sastra akan menjadi makin baik. (Tavifrudi).