Sukses Belajar Bahasa Asing
SM, MINGGU 27 APRIL 2008
Menaklukkan Bahasa Asing
Judul Buku: Sukses Belajar Bahasa Asing
Penulis: Suwartono
Penerbit: Mimbar Media Utama Semarang
Cetakan: Pertama, Maret 2008
Tebal: vii+72 halaman
BUKU ini menyumbangkan solusi atas permasalahan tersebut. Antara lain melalui saran untuk memosisikan bahasa asing sebagai bagian dari kehidupan subjek belajar.
“Artinya, kita harus berusaha menggunakannya dalam sebanyak mungkin kesempatan. Barangkali kita tidak perlu merisaukan kesalahan dan kesilapan, sebab kesalahan dan kesilapan adalah bagian dari apa yang dinamakan belajar,” tulis Suwartono di halaman 7.
Sikap dan dorongan motivasi yang positif merupakan modal awal bagi kesuksesan subjek pembelajar dalam mengarungi proses penguasaan keterampilan berbahasa asing. Baru setelah itu, ditentukan strategi pembelajaran yang jitu. Strategi itu, dapat berupa practice (halaman 22), dengan menyimak native speaker yang tengah menggunakan bahasa sasaran, berkomunikasi dengan ponsel, menyimak lagu atau film berbahasa sasaran.
Kemudian, seeking learning environment, antara lain dengan menjadi peserta lomba yang menggunakan bahasa sasaran (halaman 22). Strategi resourcing dengan memanfaatkan secara maksimal kamus dan buku teks tentang atau yang ditulis dalam bahasa sasaran (halaman 23).
Selanjutnya directed attention, prioritas pembelajaran pada objek-objek yang relevan dengan kebutuhan (halaman 17). Question for clarification, “mengumpulkan penjelasan, definisi, contoh atau verifikasi tambahan dari guru atau teman” (halaman 20).
Selain itu, juga dapat memadukannya dengan repetition, menirukan model bahasa baik dengan latihan secara eksplisit (dapat diamati orang lain) maupun latihan dalam hati (halaman 18).
Berikut translation, “menggunakan bahasa pertama sebagai basis dalam memahami dan/atau menghasilkan ungkapan dalam bahasa kedua” (halaman 19). Note-taking, “menulis kata-kata kunci atau konsep dalam bentuk lisan, grafis, atau angka pada saat sedang menyimak atau membaca” (halaman 19). Dan imagery, “menggunakan bayangan visual (baik yang bersifat mental maupun yang sesungguhnya) untuk memahami atau mengingat informasi baru” (halaman 18).
Kemampuan subjek pembelajar pada akhirnya menjadi amunisi pengayaan yang dahsyat untuk mempertajam kemampuan menggunakan bahasa sasaran. Ciri kemandirian yang paling vokal adalah aktif melatih diri menggunakan bahasa sasaran dalam situasi nyata (bukan simulatif) untuk meraih pengalaman berkomunikasi sesungguhnya. (Jokomono-35)
pembelajar dalam mengarungi proses penguasaan keterampilan berbahasa asing. Baru setelah itu, ditentukan strategi pembelajaran yang jitu. Strategi itu, dapat berupa practice (halaman 22), dengan menyimak native speaker yang tengah menggunakan bahasa sasaran, berkomunikasi dengan pos-el, menyimak lagu atau film berbahasa sasaran.Kemudian, seeking learning environment, antara lain dengan menjadi peserta lomba yang menggunakan bahasa sasaran (halaman 22). Strategi resourcing dengan memanfaatkan secara maksimal kamus dan buku teks tentang atau yang ditulis dalam bahasa sasaran (halaman 23).Selanjutnya directed attention, prioritas pembelajaran pada objek-objek yang relevan dengan kebutuhan (halaman 17). Question for clarification, “mengumpulkan penjelasan, definisi, contoh atau verifikasi tambahan dari guru atau teman” (halaman 20).Selain itu, juga dapat memadukannya dengan repetition, menirukan model bahasa baik dengan latihan secara eksplisit (dapat diamati orang lain) maupun latihan dalam hati (halaman 18).Berikut translation, “menggunakan bahasa pertama sebagai basis dalam memahami dan/atau menghasilkan ungkapan dalam bahasa kedua” (halaman 19). Note-taking, “menulis kata-kata kunci atau konsep dalam bentuk lisan, grafis, atau angka pada saat sedang menyimak atau membaca” (halaman 19). Dan imagery, “menggunakan bayangan visual (baik yang bersifat mental maupun yang sesungguhnya) untuk memahami atau mengingat informasi baru” (halaman 18).Kemampuan subjek pembelajar pada akhirnya menjadi amunisi pengayaan yang dahsyat untuk mempertajam kemampuan menggunakan bahasa sasaran. Ciri kemandirian yang paling vokal adalah aktif melatih diri menggunakan bahasa sasaran dalam situasi nyata (bukan simulatif) untuk meraih pengalaman berkomunikasi sesungguhnya. (Jokomono-35).