SUARA MERDEKA, SENIN 23 DESEMBER 1996

Menolak Santet dengan Puisi?

Judul Buku: Sajak 17 Jurus

Penyair: Untung Surendro

Penerbit: Mimbar Media Utama Semarang, 1996

MENOLAK santet dengan puisi, mana mungkin? Kenapa tidak mungkin, bukankah setiap baitnya berupa rangkaian kata-kata?  Untung Surendro, penyair yang sekaligus paranormal, mencoba merangkai bait-bait menolak santet dalam rangkaian kata yang puitis. Simak saja, misalnya, “Sajak Menolak Santet” yang terdapat pada halaman 26 antologi tersebut: Ya Matahari yang ngirim kehangatan/ Ya Rembulan yang ngirim kesyahduan/ … dsu kutolak santet dari lubang jarum/ kembali kesemestaMu/ kutepis tenung dari telapak tanganKu/ kembali ke muaraMu… dsu/ singkir menyingkirlah/ hawa murn yang dikirim para demit/ singkir menyingkirlah/ bau mayat yang ditiup para peri/ Singkir menyingkirlah/ ingsun ora kuoso nolak tenung; santet/ ya santet gambar/ ya santet angin/ ya santet pasangan/ ya santet jaran goyang/ Lailahaillallah/ … dst.

Adalah Untung Surendro, penyair kelahiran Semarang, 27 November 1954 yang —kini menyudutkan diri pada dimensi metafisis, sudut kasat mata— hadir kembali sekaligus meluncurkan buku antologi puisi “Sajak Tujuh Belas Jurus”.  Buku berisi 30 judul puisi itu diterbitkan oleh Penerbit Mimbar Semarang.

Menerbitkan sebuah buku antologi puisi di dalam era yang nyaris mengerdilkan keanekaragaman budaya bangsa dan serba mengagungkan kebendaan ini, merupakan bukti keperkasaan dan keberanian penyair serta penerbitnya dalam menyebarluaskan gagasan kreatifnya yang sarat dengan pemikiran segar ke dalam suatu arus yang telah terpenuhi limbah kebendaan dan teknologi (Prof Ir Eko Budihardjo).  Buku antologi itu, menurut Damardjati Supadjar, adalah sajak yang penuh kejujuran yang terjajar, pengantar jeritan jumenengan awal-akhir, lahir batin. Sajak yang penuh jurus lurus.  Jurus lurus itu, tidak menghadap kesana-kemari, melainkan madlep mantep tetep. Jurus lurus madlep-mantep itu, penuh kehati-hatian, dan bukannya larut ke dalam isi hati. Bahkan bagi yang syahid, bukannya ngati-ati, melainkan juga mati, yang tidak berkaitan dengan terbujur-nya jisim yang kaku membeku, sebab semuanya telah dikembalikan ke sangkan paraning malih pulih jumenengan pribadi, walau jati.  Orang Sujud Jati

Jurus lurus itu adalah jurus tujuh belas rakaat, yakni kalamullah huruf-huruf akbar Allah, di atas sumengkem-nya Muhammad, yang hurufnya berbentuk orang sujud, yakni yang minimal tujuh belas kali mencelupkan diri pada celupan-Nya, demi mendekatkan (kualitas) dirinya terhadap sifat-sifat terpuji disisi-Nya.  Simak “Sajak Menolak Santet” atau “Nyanyian Dzikir”:

/ ketika/ gelombang pikiran kosong/ tanpa pamrih/ tenaga menjadi api/ sembilan bayangan terbuang/ aku hilang dalam bayang/ siapa sibilak siapa/ aku lebur/ kesejatian membukanya/ api mengalir/ lewat tulang belakang/ … / aku memasuki kesadaranKu/ lewat bumi matahari/ siki ditelan cahaya rembulan/ sunyi/ lenggang/ tak benang/ subhanallah/ subhanallah/ subhanallah/ … dst. 

Antologi puisi ini, makin mengukuhkan eksistensi Untung Surendro sebagai penyair yang mampu menjaga kreativitasnya. Kreativitas yang tak mudah untuk dipahami sebagai luapan mistis semata, tetapi juga serangkaian kerja berpikir dan bernalar dalam kerangka obsesi dan perjalanan untuk mendekatkan diri (takarrub) pada Illahi.  Sebanyak 30 puisinya dikemas apik dalam buku dengan desain sampul yang menyiratkan sebuah tabir, yang terkuak, dan di dalamnya membentang lorong panjang, gelap, mistis, dan penuh rahasia.  Dengan mencermati desain sampul itu, kita bisa menangkap lebih awal tentang makna dan karakter isi puisi di dalamnya. Karena itu, Untung Surendro sebagaimana Goethe — penyair Jerman abad ke-19, banyak terpengaruh oleh kebesaran ayat-ayat Alqur’an (Ramiza Berjanji).  Nyanyian Pohon Manusia: Tuhan Ingin Kurehat SimpanMU.

Nilai-nilai puisi, bagi Untung Surendro berada dalam dunia yang ideal, bukan di dalam dunia praktis sehari-hari. Karena wilayah nilainya ada dalam dunia ideal, maka dimensi yang disentuhnya pun dimensi metaspiritual.  Karena itu, puisi diyakininya sebagai penjaga roh kasih sayang, sejenis malaikat yang melindungi bumi dari destruksi ilmu dan teknologi.  Sebagaimana yang diungkapkan Prof Ir. Eko Budihardjo, bahwa kota tanpa kesenian, tanpa karya sastra, adalah kota yang tak beradab, kalau kotanya tak beradab secara otomatis, masyarakatnya tak beradab.  Dan kita bisa berbangga hati, karena kita tidak termasuk masyarakat yang benda dalam kota yang tak beradab, karena kita masih punya kesenian, punya sastrawan dan punya penerbit yang peduli terhadap karya sastra, khususnya puisi.

“Kami akan terus membukukan puisi-puisi lain dan penyair lain, pada saat penerbit-penerbit lain dan orang lain memandang bahwa menerbitkan buku puisi itu rugi. Untung rugi bukan menjadi pertimbangan kami dalam penerbitan karya sastra (puisi), tapi idealisme memang lebih banyak bicara dalam hal ini,’’ tutur Direktur Penerbit Mimbar Tavifrudi.  Subangasih penerbit dan penyair dalam antologi ini adalah bukti keberanian menyebarluaskan gagasan kreatifnya di arus zaman yang nyaris memberhalakan kebendaan dan mengagungkan teknologi.  Membaca puisi-puisi Untung Surendro, menyadarkan kita untuk mengenali diri sendiri dan tidak hanyut dalam arus zaman, kendati kitab-kitab suci telah lebih dulu mengajarkannya.  / … / Ya Allah/ aku ingin berpuasa dengan tidak hanya menahan lapar dan dahaga/ berpuasalah wahai mataku dari gemerlapan duniawi/ berpuasalah hidungku dari bau wangi peti berhalal/ berpuasalah telingaku dari suara bising kehidupan/ berpuasalah tanganku dari keinginan berlebih/ berpuasalah kelaminku dari nafsu yang meradang/ … dtu/ (Maman Suparman-41)