SUARA MERDEKA, JUMAT 6 DESEMBER 1996

Menyampaikan Nada Frustrasi

Judul Buku: Petisi Penyair

Penyair: Basabasuki

Cetakan: Pertama, September 1996

Penerbit: Mimbar Media Utama Semarang

PADA pandangan saya, pada zaman post-modern ini, puisi dan penulisan puisi adalah bagian dari kegiatan manusia dalam mengembangkan kebebasan bersuara dan kebebasan berpendapat.

Dalam paradigma demikian, puisi pertama-tama dilihat sebagai ekspresi diri melalui suara dan pendapat. Melalui puisinya, Basabasuki juga berpendapat dan mempertanyakan tentang arti kebebasan atau kemerdekaan: Sebuah kemerdekaan berarti semua merdeka! Tapi apakah arti kemerdekaan? Kalau rakyat baru merdeka dari… Rakyat belum merdeka untuk… Berkaca pada angka 17-8-1945. Kemerdekaan adalah hak setiap manusia. Kemerdekaan harus dihidupkan. Manusia wajib dimerdekakan… (Sajak 17-8-1945 hlm 23-24).

Kebebasan memang ada pada penyair, yang harus terus-menerus diperjuangkan. Namun, puisi tersebut belum menjadi puisi. Dia adalah sekumpulan kata-kata yang dapat dipandang sebagai bahan untuk menciptakan puisi.

Kata-kata tersebut masih merupakan bahan mentah yang harus diolah kembali, sehingga menjadi puisi.

Dalam pengantar penerbit secara diplomatis disebutkan, penyair ini lebih mementingkan wujud visual, dengan mempertimbangkan aspek bunyi (Pengantar “Dari Mimbar”). Keprihatinan pribadi yang mendjadi obsesi Basabasuki terhadap kemerdekaan dan kebebasan juga diekspresikan lewat puisi berjudul “Sumpah Orang Merdeka” (hlm 25-26).

Keprihatinan sosial yang tinggi pun terungkap melalui sajak ini. Namun, saya menangkap kesan, ungkapan-ungkapan dan diksi yang dipilihnya belum mengalami pengolahan yang membawanya kepada kematangan sebagai puisi, sehingga mengakibatkan pengulangan-pengulangan yang dapat disetarakan dengan ungkapan sehari-hari yang klise.

Selain itu, bagian dari puisi berikut juga mengandung unsur-unsur seperti gaya pidato pejabat, atau bahkan pelajaran filsafat: wahai orang-orang merdeka! Tajamkan pikiran! Tajamkan badan! Kamu baru sampai ke depan pintu gerbang kemerdekaan…Suara-suara bernada perjuangan untuk kebebasan dan kemerdekaan juga bergema melalui sajak-sajak Petisi Penyair (hlm 35-36), Sajak Elang (hlm 47-49), dan Hak Asasi  (hlm 50-51).

Dalam kenyataan sehari-hari, ungkapan-ungkapan seperti itu membawa kita pada penangkapan kesan terhadap realitas yang utopis, atau bahkan antirealitas dan bersifat reaktif terhadap situasi yang tak mungkin dihadapi secara wajar.

Meskipun puisi pun dapat mengambil ukuran pesona dari ketidkwajaran, atau bahkan citraan yang utopis.

Dalam ungkapan lain yang sederhana, misalnya, sebuah puisi akan boleh berbunyi begini: Penyair punya gagasan dan bahasa punya saran. Gagasan penyair berasal dari pengalaman, dan kemampuan berbahasa bersumber dari pengusahan. Gagasan dan bahasa menimbulkan saran. Suara penyair dipandang sebagai potret zaman. Pendapat penyair berangkat dari kedalaman agar kebebasan dapat ditegakkan.

Penyair Kampus

Basabasuki dapat digolongkan dalam jajaran penyair Semarang angkatan tahun 1990-an. Puisi-puisinya yang terkumpul dalam antologi pertamanya, Petisi Penyair, ditulis mulai awal sampai pertengahan tahun 1990-an (1991-1996). Itulah masa-masa ketika dia menjadi mahasiswa di Fakultas Sastra Undip sejak tahun 1986 dan lulus tahun 1996.

Dia menjalani proses-proses kepenyairannya dalam kampus sebagai mahasiswa. Pada masa-masa itulah, dia membangun dirinya menjadi penyair kampus. Kehidupan kampus lainnya menjadi bahan-bahan penciptaan puisinya.

Dalam kasus Basabasuki, dia menyampaikannya dengan “nada frustrasi”, sehingga nada suaranya terhadap kehidupan mahasiswa menjadi sumbang dan nyelekit.

Jenis sajak Haiku model Jepang dimanfaatkannya dalam sajak-sajaknya tentang kehidupan mahasiswa, seperti dalam Haiku Sarjana (hlm 9-10) ini: tamat kuliah / kerja apa pun susah / tanpa rupiah.

Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut esensi kehidupan mahasiswa dan kehidupan akademik serta relevansinya dengan kehidupan masyarakat berlanjut pada sajak berjudul “Sajak Mahasiswa Skripsi” (hlm 11-13). Selain itu, dalam cara dan nada ungkapan, agaknya pengaruh sajak-sajak Rendra dari kumpulan puisi Potret Pembangunan dalam puisi yang sangat populer pada tahun-tahun 1980-an, masih membekas dalam sajak-sajak Basabasuki seperti berikut: Apakah artinya mahasiswa? / kalau tahu beribu kesalahan / malah membutakan mata! / mendengar berjuta ketidakadilan / menjadikela / malah menulikan telinga!…Dari kutipan tersebut, terlihat jelas pengaruh gaya ungkapan Rendra akhir tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an, dan bahkan tahun-tahun sebelumnya.

Di antara sajak-sajak dalam buku Petisi Penyair ini, sajak yang di jelajur terdepan dapat digolongkan sebagai sajak yang agak gelap: imaji-imaji yang ditampilkan pada bagian-bagian awal (Sajak Putih hlm. 1), cukup membangkitkan pengararuh puitik pembaca yang mengikuti alur cerita dan fantasi penyair. (Prof Dr Nurdien H Kistanto – 18)