KORAN SINDO, JUMAT 29 DESEMBER 2006

MENGENAL 22 WANITA BERPRESTASI JATENG 2006 (2)

Pernah Diungkapkan di Kisah Sejati

Tahun 2006 bisa dibilang menjadi tahun wanita dalam kepemimpinan dan dunia bisnis. Para wanita bisa berkiprah dan maju dalam pembangunan di berbagai bidang. Apa saja?

PEKERJA SOSIAL: Natalia Sutrisna (depan/tengah) merupakan pekerja sosial yang gigih.

SRI Hayati, satu dari 22 wanita berprestasi Jateng versi Mimbar Media Utama dijuluki sebagai seorang direktur yang pantang mundur. Berkat keuletannya, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang dipimpinnya yakni BPR BKK Mandiraja, Banjarnegara, dinyatakan sebagai bank percontohan oleh Bank Indonesia untuk proyek PHBK dari tahun 1994 dan proyek PKM tahun 1996. Tak hanya itu, kini BPR BKK Mandiraja menjadi kantor pusat bagi 13 BPR BKK yang merger dan menjadi cabangnya di wilayah Banjarnegara.

“Saya selalu ingat pada pesan (Ayah) yaitu yang namanya kerja tak ada yang enak. Maju terus pantang mundur. Hari esok harus lebih baik dari hari kemarin,” kata Sri Hayati.

Lain dengan Asih Marlina. Wanita kelahiran Pati, 25 Juli 1965, yang popular dengan sebutan Djeng Asih ini merupakan spiritualis wanita terbaik nasional. Pada tahun 1998 dia mendapat penghargaan dari Yayasan Indonesia Muda dan L&M Muda Perkasa Enterprise (1999) dengan sebuah gelar “Ratu Susuk Indonesia”. Dia berjasa di bidang pengobatan dan kecantikan. Anggota Paguyuban Paranormal Indonesia (PPI) Pati ini juga pernah dinobatkan sebagai tokoh penggerak pembangunan bangsa (1999).

Kemudian nama Sri Sugihastuti yang dinilai sebagai pengusaha batik yang selalu memberi dan berbagi. Wanita kelahiran Purworejo, 5 Juni 1970, ini menggeluti usaha batik tulis dan handycraft. “Saya suka batik tulis karena unik,” ujarnya.

Nama pengusaha lainnya adalah Lenawati Pudjoastuti. Dia dikenal sebagai pengusaha kecap sari yang suka novel detektif. Karena hobi membacanya merupakan bagian dari rahasia awet muda. “Terus menerus belajar akan membuat orang tetap muda,” ujar wanita kelahiran 7 Juni 1946 ini. Meskipun sudah punya sembilan cucu, Lena, begitu ia akrab disapa, tetap energik dan awet tua. Bahkan, Komisaris PT Suka Sari ini aktif berkegiatan sosial.

Lain halnya dengan Natalia Sutrisna Tjahja. Direktur Yayasan Maria Monique ini mengisahkan perjuangan pilunya saat menemani putri semata wayang, Maria Monique Atmadja dalam merenggang nyawa. Meski pada akhirnya putri tercintanya yang lahir 5 Juli 1998 itu telah meninggal dunia. Bagi hidupnya, saat-saat yang berkesan adalah ketika 40 hari bersama Monique di OCU Mount Elizabeth Singapore. “Dengan sisa hidupnya yang hanya 40 hari, Monique mampu menarik simpati media-media Singapura, khususnya The Straits Times, kemudian pemain golf dunia VJ Singh, hingga para nabi di Singapura yang turut berdoa untuk kesembuhan anak saja,” ungkap Natalia yang pernah mengungkapkan kisahnya dalam “Kisah Sejati” di Harian SINDO. Namun akhirnya, Monique mengembuskan napas terakhir pada 27 Maret 2005, setelah menjalani berbagai operasi dan tiga kali keajaiban menyertainya. “Dari pengalaman indah, saya mendirikan sebuah Yayasan Maria Monique. Yakni yayasan last wish untuk anak-anak berusia 5 tahun sampai 15 tahun yang berpenyakit kritis atau penyakit kompleks,” ungkapnya. (ahmad antoni)