Suara Merdeka, Jumat 29 November 1996

Pembacaan Sajak Tujuh Belas Jurus

Untung Surendro di Tengah Tiga Dimensi

“SETELAH melalui proses pengelihatan dan pendengaran selama saya mengikuti tulisan visi mistik dan sajak-sajak Mas Untung, saya jadi bingung dengan eksistensi Anda. Sebenarnya Anda ini masuk dalam kategori apa, sebagai penyair, sebagai paranormal atau sebagai santri?” tanya salah seorang penikmat setia Panggung Sastra Jawa Tengah, yang Rabu malam 27 November 1996 lalu menghadirkan Untung Surendro, penyair yang sekaligus paranormal.

“Ketiganya,” jawab Untung singkat.

Untung Surendro yang sudah sekian lama menghilang dari belantara kepenyairan, malam itu masih tampak kuat dalam mengekspresikan karakter puisi-puisi terbarunya. Sebelum masuk ke dalam kawasan dimensi supranatural, terlebih dulu ia dikenal sebagai seorang penyair, yang pada tahun delapan puluhan Untung sempat masuk ke dalam jajaran penyair kondang, dan pernah menerima penghargaan dari Gandhi Memorial School.

Puisi-puisi Untung dinilai banyak dipengaruhi oleh suasana dan nuansa sajak-sajak Rendra, sehingga nama Surendro menempel lekat di belakang Untung hingga sekarang.

Tertinggal

Menyaksikan penampilan Untung malam itu, terasa ada yang tertinggal. Keperkasaan Untung yang gegap gembita setiap penampilannya, malam itu berubah menjadi sunyi, kesunyian yang bermakna. “Saya merasakan ada kesunyian, tapi kesunyian yang bermakna, ketika saya masuk dan menikmati puisi-puisi yang dibacakan Untung, entah karena suasana setting panggung atau sesuatu yang lain,” kata Sulistiyo Siddharta. “Ada dimensi lain yang membawa suasana menjadi sunyi, di mana dimensi ini hanya bisa dilihat oleh mata batin kita” tambahnya.

Sementara itu, Dr Damardjati Supadjar yang berhalangan hadir untuk membahas puisi-puisi Untung, terlebih dahulu telah memberikan kata pengantarnya. Menurut dia, Sajak Tujuh Belas Jurus karya Untung adalah sajak yang penuh kejujuran yang terjajar, ‘jejer-jejer’ pengantar ‘jejer jumenengan’ awal-akhir, lahir batin. Itulah Ayatullah, berupa laku nyata paskakesaksian auditif ‘tidur sahid’ berikut kesaksian ‘melik, melek, melok. Sumurupa byare’ sebagaimana yang diwasiatkan Kanjeng Sultan Agung pada puisinya Sastra Gending.

Pembacaan Sajak Tujuh Belas Jurus Untung Surendro yang diselenggarakan Forum Komunikasi Pekerja Seni Semarang dan Jurnal Budaya Panggung ini diawali dengan peluncuran Antologi Puisi Sajak Tujuh Belas Jurus karya Untung Surendro oleh Direktur Penerbit Mimbar Tavifrudi SS. (Maman Suparman-17).

 

PROLOG

Tanpa Berani Berisiko,  Akan Jadi Sosok Tanpa Makna

MENULIS adalah  ungkapan  segala kerinduan. Ini yang saya alami. Masih ingat betul ketika berstatus sebagai mahasiswa. Kegiatan jurnalisme menjadi sesuatu yang bikin asyik. Sebagai anak muda waktu itu, gejolak tumpahan pikiran tersalur, di antaranya melalui pembuatan karya tulis ataupun artikel. Membubung tinggi hati rasanya bila karya tulis kita mendapat penghargaan.

Suatu kali, pengakuan akademik saya rasakan saat memperoleh penghargaan karya tulis terbaik di kampus. Almarhum Prof Dr Mubyarto adalah pencetus konsep Ekonomi Pancasila. Karya tulis saya mengenai konsep ekonomi pertanian berbasis sikap budaya berdikari  saat itu dinyatakan menjadi salah satu yang terbaik. Jabat tangan ucapan selamat dari almarhum dan hadiah buku karya beliau tentang ekonomi pertanian, sudah cukup membuat hati mongkog, bangga betul. Perasaan yang sama juga muncul ketika tulisan artikel  dimuat di harian Kedaulatan Rakyat. Apalagi, ketika artikel berhasil dimuat di harian nasional Kompas, wow ada perasaan: eh, boleh juga aku ini. Bisa-bisa, kalau dipupuk terus, siapa tahu bisa menjadi penulis setara Paulo Coelhoe.

Berlanjut ketika menyelesaikan program doktor di Fakultas Ekonomi UGM. Hari-hari tidak sepi dari baca buku, jurnal, dan tugas membuat ringkasan tulisan ilmiah.  Bak makan obat, tiada hari tanpa tekanan jurnalistik. Menulis dan menulis.

Tiba- tiba suasana luxurious seperti itu hilang. Dengan kesibukan sebagai eksekutif, ada perasaan terkucil. Hari-hari dihabiskan dengan aktivitas menjadi birokrat. Menghadapi orang dengan seribu wajah. Ini bukan perkara mudah. Kadang, ada saja mereka yang tampak senyum di permukaan, tapi berwajah sebaliknya. Bermacam masalah butuh eksekusi segera.  Tidak bisa dikesampingkan. Belum lagi, pencapaian atas target bulanan perusahaan harus selalu dimonitor. Rapat? Apalagi. Itu makanan harian yang harus dilakukan agar koordinasi tim tetap terjaga.

Sampai suatu saat, endapan ide, menjadi magma yang rasanya ingin meleleh bak lahar gunung Merapi. Tak bisa dibendung. Hati rasa meronta. Apa boleh buat. Buku ini hadir karena itu. Satu-satu, ide perlahan muncul di permukaan dalam bentuk tulisan singkat. Kali ini bicara soal kepemimpinan. Sebuah topik luas dan senantiasa berkembang. Buat saya, kepemimpinan bukan semata bicara status, posisi atau jabatan puncak yang dimiliki seseorang. Di samping memikul tanggung jawab, ia harus dilengkapi oleh sikap etis di satu sisi dan keberanian di sisi lainnya. Tanpa sikap berani untuk ambil risiko,  seorang pimpinan hanya akan menjadi sosok yang tanpa makna. Maaf. Mungkin ini ungkapan  yang agak berlebihan. Tapi coba renungkan. Nilai pribadi seseorang akan ditentukan sejauh mana ia berani secara moral mengatakan ‘tidak’ untuk sesuatu yang menyangkut prinsip ‘good governance’.

Semoga buku kecil ini menjadi pengungkit keindahan berbagi pengetahuan di antara kita. Kalaulah ada yang kurang di sana-sini, nyuwun pangapunten ingkang kathah. Tidak lupa, ucapan terima kasih tertuju kepada Mas Diono, Harisuseno dan tim Bank Jateng. Juga, untuk Mas Goenawan Permadi dan tim Mimbar Media Utama Semarang, matur nuwun atas dukungan dan dorongan untuk terus berkarya. Kepada rekan-rekan tercinta Bank Jateng, tetaplah berkomitmen: One Team,  One Spirit, One Goal.

 

Terima kasih.

 

Supriyatno