HUJAN turun dengan deras begitu Basabasuki selesai membacakan puisinya yang berjudul “Anak Sajak” di atas Panggung Sastra Forum Pekerja Kesenian Semarang. Kelompok Pengamen Sangkala Semarang yang malam itu mengiringi pembacaan dengan musikalisasi puisi juga terpaksa pindah ke bangsal depan Teater Terbuka Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) saat tengah menunjukkan kebolehannya. Basabasuki, yang pernah menyutradarai Opera Golput ketika masih aktif di Teater Emper Undip, malam itu (19/10) menjadi sutradara sekaligus aktor pembaca karya-karya puisinya sendiri yang terkumpul dalam Petisi Penyair yang diterbitkan o Mimbar Media Utama Semarang. Sembilan belas karya penyair lulusan sastra Undip ini sebagian besar telah dipublikasikan di media kampus almamaternya — Hayamwuruk dan Manunggal — dan sering juga dilisankan dalam acara demonstrasi dan kesenian kampus. Tak heran jika diksi dan tema puisi-puisi ini tak luput dari persoalan kritik sosial politik.

“Hampir keseluruhan puisi-puisi Basabasuki memang bertemakan kritik sosial, ditulis ketika ia masih menjadi mahasiswa sastra Undip dan aktif dalam sejumlah kegiatan demonstrasi,” kata Dr Nurdien H Kistanto, penyair dan dosen Undip, yang malam itu menjadi pembahas pada acara diskusi usai pementasan.

Petisi Penyair adalah teriakan-teriakan pembebasan kaum kecil dan kritik atas tatanan zaman yang telah kacau. Sang penyair menyampaikannya dengan idiom-idiom heroik dan penuh vitalitas. Hal itu tampak sangat transparan dalam puisi “Sajak Mahasiswa Skripsi”, “Darah”, “Sajak Darah Daging”, “Sajak 17-8-1945”, “Sumpah Orang Merdeka”, “Hak Asasi”, “Anak Sajak”, “Sajak Bebek dan Sontoloyo”, “Kesaksian 20/5/1992”, dan “Petisi Penyair”.

Beberapa judul seperti “Sajak Putih”, “Sajak Maut”, “Siasia”, “Sajak Haiku”, “Sajak Kelahiran”, dan “Dhudhukwuluh” tetap berbicara tentang persoalan pribadi, pendidikan, dan buah cintanya bernama Oaui (Diksi Divine) — anak sulungnya yang lahir 22 Oktober 1995 hasil perkawinannya dengan Budi Priyanti.

Basa Basuki juga menampik anggapan bahwa dirinya sangat sekuler, dan hanya mencipta sajak-sajak pamflet.

Musik Iwan Fals

Kelompok Pengamen Sangkala merilis puisi Maskumbang dan Girisa ke dalam nuansa musik Iwan Fals. Dengan vokalis Ari Jabo dan Amran malam itu Sangkala mendapat perhatian publik sebagai kelompok musik jalanan yang layak diperhitungkan. “Saya tertarik dengan kelompok musik ini,” puji Nurdien. “Beberapa musisi kita juga lahir dari pemusik jalanan.”

Menurut rencana, kelompok pengamen yang bermarkas di Jalan Imam Bonjol ini akan mengiringi tur Basabasuki di tujuh kota besar, yakni Semarang, Solo, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Bali. “Saya ingin memperkenalkan mereka ke dalam masyarakat sastra,” kata penyair kelahiran Mbangak Boyolali, 3 April 1967 ini.

Belum puisi

Nurdien usai pentas yang dimoderatori oleh penyair Irma HS, menilai puisi-puisi dalam Petisi Penyair belum menjadi puisi. Penyair harus mengolahnya lagi agar lebih matang. “Puisi-puisi ini hanya mementingkan wujud visual dan lebih memanfaatkan aliterasi dan asonansi. Sehingga, jika dilisankan memang mampu membangkitkan emosi penonton. Karenanya, rima tak lagi bisa dijadikan sandaran,” ungkapnya.

“Pengaruh Chairil, Rendra, dan pelajaran filsafat sangat tampak dalam puisi Basuki,” tambahnya pula.

Malam dingin itu menjadi forum hangat. Sebelum acara diskusi dimulai, diumumkan para pemenang lomba Baca Puisi Lubang Tanpa Dasar karya Ghufron Hasyim yang diselenggarakan pagi hari di TBRS. (Jimat Kalimasadha/Alex Poerwo).

WAWASAN – MINGGU 27 OKTOBER 1996