Mutiara dalam Kandungan Laa Ilaaha Illallah (Ilmu Ketuhanan)
Suara Merdeka, Senin 31 Maret 1997
Jalan Menuju Tuhan
Judul Buku: Mutiara dalam Kandungan Laa Ilaaha Illallah (Ilmu Ketuhanan)
Penulis: Priyo S Hidayat
Penyunting: Tavifrudi Y
Penerbit: Mimbar Media Utama Semarang
Tahun Terbit: 1996
TAUHID dan tasawuf, itulah yang ingin dikedepankan oleh Priyo S Hidayat dalam buku ini. Mutiara yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah itu termuat tinggi dan mulia nilainya. Hanya hamba-hamba yang memperuntukkan dirinya kepada Allah, yang akan dapat memperoleh mutiara itu.
Buku mungil yang tersusun atas lima bab ini, boleh juga disebut sebagai panduan bagi hamba-hamba Allah yang ingin meraih dan merengkuh mutiara-mutiara dan misteri yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah.
Dalam Bab Pendahuluan memuat tentang pemahaman atas dimensi Islam, taqarrub kepada Allah, serta pengertian, tujuan, dan manfaat zikir.
Bab II berbicara tentang sufi. Bab III berisi tentang tahap-tahap meraih mutiara keilahian, yakni tahap membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan kotoran hati, tahap tahalli (mengisi diri dengan perbuatan terpuji), dan tahap tajalli (kenyataan Tuhan).
Bab IV menyentil tentang eksistensi para wali dan keramatnya. Bab V menguraikan tentang dzat Allah yang jelas dan terang dengan segala sifat-sifatnya.
Dimensi-dimensi yang dikaji dalam Islam begitu luas. Secara global dimensi itu meliputi tiga perkara. Yaitu iman, Islam (ilmu), dan ikhsan (amal). Ketiganya populer disebut sebagai akidah, syariah, dan akhlak. Akidah adalah dasar atau fondamen yang mesti ditanam dengan benar terlebih dulu. Kemudian diiringi dengan syariah, dan diharmoniskan dengan akhlak.
Dalam praktiknya, ketiga hal tersebut (hendaknya) saling mengisi menjadi satu kesatuan, agar pelakunya termasuk dalam golongan muslim yang sempurna. Jadi, dengan kata lain, akidah adalah fondasi atau zat pokok (inti), syariah adalah pilar atau zat pembangun, dan akhlak adalah penunjang atau zat penyelaras.
Kalau salah satu saja tidak ada, akan timpang. Ketimpangan tidak akan membawa keselamatan, dan otomatis akan menjauhkan dari kebahagiaan yang hakiki.
Zikir dan Taqarrub
Alat pencuci hati adalah zikrullah. Hati memang bermacam-macam, yang semuanya – sekecil apa pun – tak bisa lepas dari kotoran. Ada hati yang putih, hitam, tertutup, ada pula hati yang kacau-balau. Hati yang putih adalah hati yang cerah-putih-bersih yang nyaris hanya berisi kebaikan, yakni hati orang yang mempunyai kadar iman-Islam-ikhsan yang tinggi.
Hati hitam merupakan hati kaum kafir secara umum, sama sekali jauh dari keilahian. Hati yang tertutup adalah hati yang beku (keras) yang sulit menerima nasihat-nasihat kebaikan dari luar. Sedangkan hati yang kacau-balau adalah hati yang berisi campuran antara kebaikan dan keburukan.
Jika bisa meraih jenjang predikat hati putih, maka mutiara-mutiara yang terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah makin terbuka (mudah) untuk dijangkau dan dirasakan. Artinya, jalan sudah tersibak.
Jalan yang ditempuh para nabi, para wali, para sufi, dan kaum muslimin guna meningkatkan takwa, adalah melakukan amalan-amalan saleh dan memperbanyak zikir.
Berzikir atau mengingat Allah itu mesti dilakukan dengan ikhlas dan mengharap keridaan-Nya. Sebab, Allah hanya akan menerima ibadah orang-orang yang hatinya ikhlas. Dengan berzikir, hati akan menjadi jernih dan suci dari sifat-sifat kotor. Salah satu fungsi zikir adalah dapat menenangkan dan menentramkan hati. Muaranya adalah dekat (taqarrub) kepada Allah.
Taqarrub adalah keadaan seseorang meyakini sepenuhnya bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui. Allah mengetahui seluruh gerak-gerik dan apa pun yang terlintas dalam hati. Sebenarnya dengan taqarrub kepada Allah, seorang hamba ingin selalu merasa dilihat Allah SWT, sehingga selalu merasa diawasi dan disaksikan apa saja yang dikerjakannya.
Jika manusia tidak merasa dekat dengan Allah, karena tidak berupaya mendekatkan diri kepada-Nya, maka akan jauh dari hidayah dan pertolongan. Dia tidak menyadari Allah sesungguhnya sangat dekat (hlm 6).
Sufi dan Tasawuf
Iman, Islam, ikhsan adalah tahap-tahap bagi hamba-hamba untuk mencapai kadar muslim yang sempurna. Pada tahap ikhsanlah, hamba Allah yang beriman menapaki jalan sufi menuju tauhid yang luhur. Orang-orang sufi (sufisme) adalah hamba-hamba Allah yang mukhlis (tulus ikhlas), wali kekasih Allah yang jujur dan takwa. Sedangkan tasawuf, menurut Hamka, berarti membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam supaya mudah menuju kepada Allah.
Priyo S Hidayat dengan mengutip ahli sufi terkenal, Junaidi Al-Baghdadi, menulis, “Hidup dan matimu di tangan Allah. Beribadahlah sepenuhnya, membersihkan diri dengan kebenaran, sehingga mencapai salah satu kedudukan hakikat, dan membandingi hukum syariat. Maka ia disebut seorang sufi, karena telah membersihkan diri dan menyucikan dirinya.” (hlm 20).
Bagi orang sufi, sebelum mengabdi kepada Allah harus lebih dulu mengabdi dalam kebaikan kepada sesama dengan cara andhap asor, tahu diri dalam perikehidupan sesama dengan akhlak yang mulia.
Setelah itu, barulah ia mengabdi kepada Allah dengan mempersembahkan jiwa raga yang polos, jujur, serta bersahaja.
Kaum sufi pun bercermin pada diri sendiri sehingga dapat mengenali dan mengawasi diri sendiri, suatu manifestasi tahap ikhsan yang lahir setelah iman dan Islam. Dari sanalah kaum sufi menapak maju mencapai tauhid yang luhur.
Di antara kaum sufi ada yang terpilih menjadi wali atau waliyullah. Para wali mendapatkan tempat yang lebih tinggi dari masyarakat muslim lainnya, karena kekuatan ikatan dengan kenyataan abadi. Mereka menjalin keakraban yang merupakan indikasi kedekatan dan kecintaan kepada Allah. Secara ritual, mereka menyucikan diri, dan telah menghilangkan keakuannya secara universal dengan jalan rahalli, mengisi tindak perilaku yang berkualitas cahaya.
Jika para nabi mendapatkan mukjizat, maka para wali mendapatkan karomah (keramat). Karomah diberikan kepada para wali sebagai tanda kemuliaan mereka, terutama kemuliaan bagi pandangan penduduk langit.
Benar, ketauhidan kepada Tuhan yang mesti didukung oleh syariat, tarekat, hakikat, makrifat—yakni perilaku yang mendasarkan Alquran dan Sunah Rasul Muhammad SAW—terkandung dalam Laa Ilaaha Illallah. Kalimat tauhid yang diumpamakan seperti pedang Jabarut untuk memberantas hawa nafsu, merupakan miftahul jannah atau pembuka pintu surga.
Laa Ilaaha Illallah memuat mutiara-mutiara yang tak ternilai harganya, yaitu mutiara keilahian yang mampu membukakan tirai hijab bagi mereka yang menginginkan perjumpaan (liqa’) dengan Allah Azza Wajalla, esa dengan segenap sifat asma’ dan af’al-Nya.Demikianlah, ternyata menenggelamkan diri ke dunia tasawuf laksana menyelam ke dalam samudera yang teramat luas kekuasaan Allah SWT. Dengan menyelam akan mengenal dan memahami apa yang ada di dalam samudera itu. Tak terbatas dan takkan habis, terus dan terus.
Bagi orang-orang sufi, hal ini menuntut seperti napas sehari-hari satu pun terlewatkan. Bagi muslim awam, meski berjalan dari berusaha menapak tahap demi tahap menyibak jalan menuju Allah SWT yakini dengan cara yang “kurang lebih sama” dengan cara kaum sufi itu. (Imron Samsuharto-18)