Menjaring Kiat Sukses Bisnis (Profil Pelaku Usaha Jateng)
SUARA MERDEKA MINGGU, 10 MEI 1998
Menjaring Jejak-Jejak Perjuangan
Judul Buku : Menjaring Kiat Sukses Bisnis (Profil Pelaku Usaha Jateng)
Penyunting : Bagus Pratomo SE
Penerbit : Mimbar Media Utama Semarang
Tahun : 1998
ISBN: 979-9036-01-1
MEMBACA dan mendengar kisah sukses seseorang memang sangat menyenangkan. Pada tingkatan puncak, sepertinya segala sesuatu mudah diraih. Orang sering hanya memandang hasil yang telah diperoleh, tetapi melupakan proses mencapai hasil.
Padahal, tak ada keberhasilan tanpa perjuangan. Kesuksesan tidak jatuh begitu saja dari langit. Di balik keberhasilan seseorang, tentu tertinggal jejak-jejak perjuangan hidup yang sangat keras. Jatuh-bangun atau pahit-getir merupakan hal yang lumrah bagi pelaku bisnis. Karena itu, kisah sukses itu akan terasa lebih nikmat bila menengok ke belakang untuk mengetahui proses memperolehnya.
Proses memulai, menghidupkan, dan mengembangkan bisnis yang dilakukan 16 pelaku usaha di Jateng, itulah yang bisa disimak dalam buku ini. Dari kisah perjalanan mereka, kita dapat melihat cara seseorang memperjuangkan prinsip-prinsip dalam mengembangkan suatu usaha. Sehingga yang bisa diserap tidak hanya kisah sukses mereka, tetapi juga cara memperoleh dan mempertahankannya.
Dari Nol
Buku ini hanya memuat 16 pelaku usaha di Jateng. Padahal, tentu banyak pengusaha lain yang layak ditampilkan. Ternyata, menurut penerbit dalam kata pengantar, sengaja dibatasi karena agar buku tidak terlampau tebal dan diharapkan akan muncul seri penerbitan yang berkesinambungan.
Pada buku seri pertama ini tampil Ageng Utomo Sugiharto, Agung Sasongko, Bambang Husodo, Edih Hudiman, Edwin Gunawan, Endah Winasuti Rukmadi, Edi Nursasongko, Qintiel Ganiwidjaja, Soenthro, Soegeng Soejoro, Stephanus Adhy Trisnanto, T Susilo Handoko, H Suwanto, Sugiyanto Tanto, H Sukiyat, dan Yulia.
Satu hal yang menarik disimak, ternyata para tokoh itu meraih kesuksesan dari nol. Misalnya H Suwanto, pria kelahiran Wonogiri ini pernah ikut orang lain sebagai tukang cuci pakaian. Kemudian, membanting tulang dengan menjadi loper koran, lantas berjualan buku di Pasar Johar Semarang. Dengan berbekal pengalaman berdagang buku, tamatan SLTA itu akhirnya menjadi pengusaha percetakan dan penerbitan. Sekarang, Direktur Penerbit Aneka Ilmu Semarang itu memiliki sekitar 50 mesin percetakan dan ribuan tenaga kerja.
Tentang kiatnya dalam meraih kesuksesannya, pengusaha yang mempunyai omzet puluhan miliar ini menuturkan, “Sebenarnya yang diutamakan dalam berbisnis adalah kesabaran dan ketelatenan mencari bentuk usaha yang tepat dan cocok (hlm 66).”
Selain itu, menurut dia, untuk bisa selalu sukses tidak boleh terlalu pandai. Sebab, jika terlalu pandai, akan tidak punya waktu untuk mengembangkan bisnis. “Kalau sedikit-sedikit diundang untuk seminar, mana punya waktu untuk mengembangkan bisnis (hlm 68).”
Kisah lain yang juga mengesankan adalah pengalaman T Susilo Handoko. Investor pendiri PT Karsa Bayu Bangun Persada yang berkantor pusat di Jakarta ini, saat muda sekitar tahun 1970 berjualan nasi bungkus sembari menjadi tukang batu.
“Menjadi tukang batu saya jalani selama dua tahun. Kemudian saya dipercaya sebagai pelaksana dan subkontraktor,” kenangnya (hlm 60).
Demikian pula H Sukiyat, pemilik Bengkel Bodi Reparasi dan Cat Oven di Kradenan, Trucuk, Klaten. Meski cacat kaki, pria tamatan SMP itu tak pernah minder dalam menjalankan usaha. Dia memulai usaha ketika menjadi usaha reboisasi cacak di Sol0 selama enam bulan pada tahun 1973.
Kini dengan 36 karyawan, bengkelnya makin dikenal. Tak hanya warga Klaten yang mengenalnya, tetapi juga dari daerah lain. Bahkan, pernah dijadikan objek studi banding oleh rombongan dari mancanegara, peserta Kursus Tenaga Negara Berkembang, antara lain dari Vietnam, Laos, Filipina, Singapura, Myanmar, Bangladesh, Thailand, dan Kamboja.
Pahit-getir merintis usaha dari bawah itu juga dialami para pengusaha lain dalam buku ini. Tentu dengan lika-liku cerita yang berbeda. Dalam meraih kesuksesan, mereka punya kiat. Tak bisa dirumuskan secara eksak, memang. Namun pada umumnya kunci sukses mereka adalah perjuangan dan kerja keras.
Soegeng Soejoro, kontraktor telekomunikasi yang menjadi Ketua Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnetel) Jateng, menuturkan, ada empat kunci kesuksesan dalam berbisnis, yaitu perjuangan, kerja keras, optimistis, dan modal.
Demikian pula Stephanus Adhy Trisnanto, Direktur PT Kiat Adhi Pariwara Semarang, senantiasa berprinsip harus kerja keras dan ulet. Menurut dia, seseorang akan berhasil bila memiliki daya juang yang ulet, bukan sekadar pandai dan memiliki modal besar.
Kalau suatu bisnis bersinggungan langsung dengan konsumen, pelayanan menjadi sangat penting. “Falsafah bisnis saya adalah memberikan pelayanan sebaik-baiknya untuk memperoleh kepuasan yang maksimal kepada pelanggan,” papar Edih Hudiman, wanita kelahiran Samarinda yang kini memimpin Nadine Duta Persada, perusahaan bidang jasa pameran yang acap menjadi rekanan REI Jateng.
Faktor utama dalam kegiatan usaha adalah kepercayaan masyarakat. Lebih khusus lagi selalu berusaha menjaga kepercayaan konsumen. Demikian prinsip Agung Sasongko, pemilik perusahaan percetakan dan penerbitan, PT Pabelan Solo.
Kiat, prinsip, proses, idealisme, serta sendi-sendi dalam dunia bisnis, memang masih sering menjadi tanda tanya besar bagi orang yang hendak atau masih ragu-ragu menekuni bisnis dengan serius. Buku seri pertama ini mencoba menawarkan “jawaban”-nya. Sehingga dalam menghadapi krisis ekonomi yang makin parah ini, tetap bisa bertindak arif dan bijak. (Tavifrudi Y-35c)