Malam Pertama (Kumpulan Puisi)
SUARA MERDEKA, SENIN 16 SEPTEMBER 1996
Sebuah Pesan Kemanusiaan
Judul Buku: Malam Pertama (Kumpulan Puisi)
Penyair: Gunoto Saparie
Penerbit: Mimbar Media Utama, 1996
PUISI merupakan bentuk ekspresi manusia yang paling purba. Konon, puisi pun merupakan bentuk sastra tertua, baik sastra lisan maupun tulis. Hampir di setiap negara, puisi memegang peranan dalam kehidupan dan kebudayaan.
Para jenius, mulai zaman Yunani, renaissance, dan New Age, tidak sedikit yang memercikkan pikirannya ke dalam bentuk sastra, khususnya puisi. Mulai dari Homeros, Dante, sampai Pablo Neruda, dan Divine Comedia adalah sebagian contoh karya abadi.
Apa yang menarik dari sebuah puisi? Adalah energi karakteristiknya sehingga puisi mempunyai daya hidup sampai lama (abadi).
Itulah sebagian unikum dari sebuah karya sastra. Sebuah dunia dalam bahasa. Bahkan, di tengah zaman yang pragmatisme dan hedonisme menjadi gaya hidup, puisi pun tetap mampu bertahan hidup. Meskipun makin tersingkir dan terbuai, tetapi puisi masih tetap ada.
Ditulis oleh penyair, diproduksi oleh perusahaan, dan dipasarkan kepada publik. Artinya, puisi masih diperlukan oleh manusia, meskipun dalam jumlah minoritas.
Di tengah zaman seperti itu, Gunoto Saparie, penyair Indonesia yang beraliran imajis, membukukan puisi-puisinya dalam Malam Pertama (1996). Antologi ini merupakan buku ketiganya. Sebelumnya Gunoto telah menerbitkan Melancholia (1979) dan Solitaire (1981).
Malam Pertama berisi 31 judul puisi, ditulis Gunoto selama 14 tahun (1982-1996). Sebagian puisi dalam antologi ini pernah dipublikasikan di media massa Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta. Sebagian lagi pernah dimuat dalam antologi puisi bersama, seperti Kirau KepadaMu (1993), Antologi Puisi Jawa Tengah (1994), dan Serdadu Laskar Turun (1996). Antologi ini merupakan hasil seleksi penyair yang cukup ketat dan 51 judul puisi yang pernah dipublikasikan.
Bagi penyair imajis, ada semacam kepercayaan (mazhab), di dunia yang nilai-nilai moral, intelektual, dan filsafat, tidak menentu, pluralitas, dan relatifitas. Karenanya hanya kesan-kesan sajalah yang dianggap pasti dan bisa dilukiskan.
Ide puitik kaum imajis adalah bagaimana menggambarkan suasana atau kesan, yang ditimbulkan oleh kontra antara sesuatu yang aktif dan reaktif, dan gejala-gejala alamiah dan menyelusup lebih ke dalam melalui imajinasi dan feeling.
Kata sebagai pendukung imaji adalah nomor satu. Kata-kata harus dapat mewujudkan imaji dan mendukung dunia imosi.
Dalam sebuah puisi, tema harus mendukung imaji. Itu berbeda dari prosa atau drama, yaitu kata-kata menjadi pendukung tema atau alur.
Penyair imajis dalam kreativitasnya kembali pada bahasa percakapan sehari-hari, sederhana, dan lebih mudah ditangkap. Secara semiotik, judul puisi menjadi indeks dari sebuah tema puisi. Malam Pertama sebagai judul antologi dan sebuah judul puisi, menjadi indeks penyair yang menyadari dan menghayati pergulatan eksistensi yang hidup dalam dunia waktu.
Sebagai peristiwa sederhana tentang waktu misalnya, sudah menjadi hal yang rutin, biasa, atau umum bagi manusia. Waktu hanya berfungsi dan berhenti sebagai tanda aktivitas fisik belaka. Bahkan waktu menjadi tanda pragmatis di zaman kapitalis. Waktu adalah uang. Di mata seorang penyair imajis, hal-hal yang kecil, sederhana, dan sepele itu bisa berubah menjadi ide puitik. Seperti dapat dibaca pada puisi “Malam Pertama” berikut:”Di luar jendela, siapakah, menggugurkan daun-daun? berguguranlah sunyiku, dan sunyimu di ranjang, di dalam kamar, siapakah, meredupkan lampu biru itu? redaplah mataku dari matamu di persentuhan, di dalam batin, siapakah, membayangkan adam-hawa?….(hlm 12).
Puisi persentuhan manusia tidak sekadar berhenti pada segumpal darah dan daging atau hubungan seksual belaka.
Puisi itu memberikan kesan yang dalam terhadap eksistensi sepasang manusia yang hidup di dunia yang tidak terlepas dari akar sejarahnya. Sejarah manusia pertama di bumi. Sejarah Adam dan Hawa. Suasana malam yang dibangun penyair dengan kata sunyi menjadi berguguranlah sunyi, kata redup menjadi meredupkan lampu biru dan redupkan mata. Suasana tersebut mengkonkretkan imaji tentang waktu (malam). Suasana tempat yang dibangun lewat diksi di luar jendela pada bait 1 dan di dalam kamar pada bait ke-2 tiba-tiba menjadi di dalam hati pada bait ke-3, mengandung kesan tempat yang tidak sesempit jagad kecil (mikrokosmos), tetapi seluas jagad besar (makrokosmos).Dilihat dari segi style dalam arti kebiasaan dan tema dalam arti pemesanan pengalaman, ke-31 puisi ini dapat dibagi dalam tiga bentuk imajinasi. Yaitu imaji tempat, waktu, dan peristiwa.Yang pertama meliputi 11 judul puisi (Pantai, Papung, Surau Kecil di Sebuah Kampung, dsk).
Kedua, terdiri atas 4 judul puisi (Gerimis Lewat Malam, Malam Pertama, Tamu Tengah Malam, dsb).
Dalam antologi ini banyak terdapat imaji penglihatan dan pendengaran. Hal ini mudah kita lihat lewat judul-judulnya yang berhubungan dengan bentuk, rupa dan peristiwa, yaitu pada 27 puisi. Tidak secara kebetulan bila penyair yang juga wartawan ini, dalam berpuisi banyak mengeksplorasi imaji penglihatan dan pendengaran. Karena dengan kelebihan daya sense of phenomena, dia peka menangkap objek atau berita menjadi ide puitik.
Ciri-ciri lain penyair imajis selalu mempertimbangkan ekonomi kata. Kata dipakai seirit-irit mungkin. Tugas terberat dan terberat penyair imajis adalah melawan kata-kata, sehingga tidak mengherankan, kalau puisi imajis kelihatan pendek-pendek.
Dalam antologi ini rata-rata sebuah puisi selesai ditulis pada satu halaman buku. Dilihat dari pola pembatasannya, antologi ini terdiri atas 1, 2, 3, 4, dan 5 bait. Puisi terpendek terdiri atas 1 bait dan terpanjang 5 bait. Yang terpendek ada dua puisi. Yang 2 bait ada lima judul puisi.
Memang, menurut A Toer, puisi itu memisahkan harga pada sesuatu yang tak punya harga, pada seseorang yang tak suka. Dalam hal ini, Gunoto pun telah berusaha dan belajar memberikan harga pada yang berharga.
Memang, dalam antologi ini tidak ada tema puisi-puisi sosial-politik, bukan pikiran besar, seperti pemikiran ekonomi, hukum, dan demokrasi. Namun, ini bukan berarti puisinya antitesisial dan apolitis.
Justru sebagai penyair imajis, dia menyajikan puisi kemanusiaan dengan bingkainya. Di situlah terletak pesan dan puisi imajisnya.
Akhirnya, pada zaman kapitalis, pragmatis, dan hedonis ini puisi memang hanya bisa memberikan pesan. Pesan kemanusiaan dan kehidupanan. Pesan inilah yang masih berharga dalam antologi puisi Malam Pertama ini. (Basabasuki – 18)