Peluncuran dan Bedah Buku

Gay Pilihan Jalan Hidupku: Pengakuan Seorang Priayi Jawa Zaman Penjajahan Belanda

Homoseksualitas adalah Konstruksi Soaial

UMUR homoseksual nyaris setua peradaban manusia. Kitab suci mewartakan tentang kaum penyuka sesama jenis  yang hidup pada zaman Nabi Luth di Kota Sodom dan Gomora. Dalam konteks Nusantara, praktik homoseksual ditemukan di hampir semua akar kebudayaan: Aceh, Bugis, Bali, Dayak, Madura, Minangkabau, Toraja, Papua, dan tentu saja Jawa.

Di Jawa, homoseksualitas terpapar dalam relief candi dan teks sastra. Serat Centhini, misalnya, mengungkap relasi seksual antarlelaki. Di sana, narasi atas perilaku itu menguar vulgar, tanpa penilaian atau tendensi. Satu lagi literatur mengenai homoseks  Jawa adalah “Jalan Sampoerna”. Itu manuskrip yang ditulis Soetjipto, seorang priayi pada paro pertama abad ke-20.

“Jalan Sampoerna” menyerupai autobiografi Soetjipto, sang penulis, mengisahkan kehidupannya sebagai seorang homoseks. Naskah yang tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan kode ML 512 dan ML 524 itu disunting oleh Amen Budiman pada 1980-an. Kini “Jalan Sampoerna” diterbitkan oleh Mimbar Media Utama dengan judul: Gay Pilihan Jalan Hidupku: Pengakuan Seorang Priayi Jawa Zaman Penjajahan Belanda.

Pada Sabtu (8/11/2008)) siang, buku tersebut diluncurkan di RM Cianjur Taman Beringin Semarang. Selain peluncuran buku, juga digelar bedah buku yang menghadirkan peneliti kunci Kultural Studies, Ferdiansyah Thajib, sastrawan Triyanto Triwikromo, dan pengajar Filsafat Unika Soegijapranata Donny Danandono.

Manuskrip Berharga

Ferdiansyah menyebut naskah Soetjipto sebagai manuskrip berharga terkait sejarah homoseksual di Indonesia. Sejauh penelusurannya, itu otobiografi gay pertama di Nusantara. Naskah itu bisa dipakai untuk memberi pemaknaan alternatif atas persoalan homoseksualitas kontemporer.

Dari “Jalan Sampoerna” kitab isa melihat bahwa homoseksualitas di Indonesia tidak menempuh evolusi linear. Selain itu, penuturan Soetjipto mematahkan pandangan bahwa perilaku seks sejenis merupakan konstruksi yang diimpor dari Barat.

Donny juga menganggap penting naskah Soetjipto. Dia bahkan menyejajarkannya dengan novel A Portrait of The Artist as a Young Man karya sastrawan besar Irlandia, James Royce (1882-1941).

Naskah itu, kata Donny, menegaskan tesis homoseksualitas sebagai sebuah konstruksi sosial. Dipaparkannya bahwa ketertarikan Soetjipto pada sesame jenis hanyalah kebetulan. Sebab, merefleksikan konsep ketertarikan itu, dia berikhtiar menatap jalan yang memungkinkannya menyukai perempuan.  Soetjipto sempat menyelimurkan orientasi seksualnya. Beberapa kali dia berhubungan dengan Perempuan, namun sesudah itu selalu larut dalam penyesalan. Akhirnya Soetjipto pun mempertegas orientasinya sebagai seorang homoseksual.

“Kisah Soetjipto ini menunjukkan bahwa homoseksualitas, seperti halnya heteroseksualitas dan biseksualitas, bukan sesuatu yang genetis atau alamiah. Ketiganya dikonstruksikan secara sosial. Itulah sebabnya dominasi heteroseksualitas selalu dipertahankan dengan mendiskriminasikan homoseksualitas,” ujar Donny.

Namun dalam perspektif Triyanto Triwikromo, naskah Soetjipto bukan contoh baik dari sebuah pemberontakan manusia merebut kemerdekaan dirinya. Manuskrip itu sekadar mewartakan realitas  homoseksual—yang dalam rezim heteroseksual dipandang sebagai perilaku menyimpang.

“Soetjipto menegasi lingkungan dengan memasuki dunia yang diharapkan, tetapi pada saat yang sama tidak membebaskan diri dari kelaziman tubuh. Dia tak menjadi mesin hasrat sepenuhnya. Dia masih hidup dalam tata krama tubuh. (Rukardi-56)

Dimuat Suara Merdeka, Minggu 9 November 2008.