Suara Merdeka, Agustus 2001

“Gasak-gasakan” di Peluncuran Buku Pak Wagub

BAGIKAN BUKU: Wagub I Jateng Drs H Achmad memeluk anak sulungnya seusai peluncuran buku Memori Kecil, di Kolam Pancing Risana Banyumanik. (Foto: Suara Merdeka/D4).

SEBUAH buku biografi seorang mantan bupati diluncurkan di kolam pemancingan Risana Banyumanik. Pemilik biografi, Wagub I Jateng H Drs Achmad, bahagia menyambut para tamu yang sebagian besar merupakan kolega, kawan lama, dan para sahabat.

Peluncuran buku Memori Kecil Drs H Achmad pada Minggu pagi hingga siang itu akhirnya memang mirip reuni. Suasana menjadi gayeng, karena tak sekadar membicarakan soal buku, tapi juga kangen-kangenan sekaligus gasak-gasakan.

Hadir beberapa tokoh penting, antara lain dua mantan gubernur H Moenadi dan HM Ismail, mantan ketua DPRD H Soeparto, Pemimpin Umum Suara Merdeka Ir Budi Santoso, berikut Pemred Drs H Sutrisna dan Pemred Wawasan H Soetjipto SH. Selain itu, istri Gubernur Ny Hj Effi Mardiyanto, Rektor Undip Prof Ir Eko Budiardjo, Rektor Unissula Dr dr Rofig Anwar, Koordinator KP2KKN Machfudz Ali SH MSi, Ketua MUI Drs H Ali Mufiz MPA, mantan Ketua PW Muhammadiyah Prof Dr H Abu Su’ud, mantan Wali Kota Semarang H Soetrisno Suharto, dan Soewignyo, guru Achmad waktu Sekolah Rakyat (SR) di Jepara.

Acara dimulai ketika Achmad mengenang “keterlukaannya” saat menjadi Bupati Magelang pada 1967. Sebab, kata dia, tak semua orang percaya bahwa dirinya pantas menjadi bupati. Termasuk H Moenadi (Gubernur Jateng periode 1966-1974) yang melantiknya.  “Kata Pak Moenadi, saya ini orang ndesa. Apa saya mampu nyambut gawe sebagai bupati. Pengakuan itu baru saya dengar setelah lima tahun saya menjadi bupati. Anehnya, Pak Moenadi tetap memakai saya sampai periode berikutnya,” tutur Achmad, sambil menoleh ke arah Moenadi yang senyum-senyum.

Tidak Membedakan

Di mimbar tempatnya berdiri, Achmad masih “menggoda” mantan atasannya itu. Konon, suatu kali Pak Moenadi memvonis bahwa dirinya benar-benar tidak bisa menjabat bupati. Alasannya, karena di sekitar Candi Borobudur masih banyak pengemis yang keleleran. “Terus terang saya kelara-lara (sakit hati) waktu itu. Sudah kerja keras, tapi hasilnya selalu tidak enak di mata atasan.” Tapi bukan Achmad kalau tidak bisa membalas serangan itu. Ketika suatu kali sowan ke kantor gubernur, dia ganti memvonis Pak Moenadi tidak layak menjadi gubernur. Kenapa? “Karena di sekitar Pasar Johar juga banyak pengemis berkeliaran,” katanya, disambut gelak para tamu undangan.

Achmad juga mengungkapkan prinsip hidupnya yang tak pernah membedakan manusia dari sisi suku, agama, dan ras. Misalnya, ketika ada bayi Kristen meninggal dan akan dimakamkan di kuburan muslim. Kaum muslim menolak, tapi Bupati Achmad memerintahkan agar bayi itu segera dikuburkan. “Kewajiban kita hanya menguburkan. Biar nanti para malaikat yang memilih-milihnya.”

Tak hanya Achmad, para sahabat pun diberi kesempatan untuk mengomentari sekaligus mblejeti suami Ny Hj Maryam.  Budi Santoso misalnya, memberikan joke segar. “Saya sebenarnya tidak siap berkomentar. Tapi karena pernah diberi proyek Pak Achmad saat menjadi Bupati Magelang, ya apa boleh buat,” katanya. Budi melanjutkan, kisah yang disampaikan Achmad belum lengkap. Sebab, mantan Ketua PWNU Jateng itu tidak menceritakan saat mendampingi Gus Dur dalam beberapa kesempatan mengunjungi Suara Merdeka. “Rupanya Pak Achmad itu termasuk anggota Paspenpres, yaitu Pasukan Penuntun Presiden,” kelakarnya, mengundang tawa hadirin.

Soal pemblejetan itu, Budi mengaku sebelumnya dia dibisiki mantan Gubernur Jateng Ismail yang berada satu meja dengannya. “Pak Ismail pesan, blejeti wae, Bud. Soalnya dari tadi Pak Achmad sudah mblejeti Pak Moenadi,” katanya dalam acara yang dipandu Agus Fathuddin Yusuf itu.

Kado Ulang Tahun

Penerbitan buku Memori Kecil Drs H Achmad itu merupakan ide Ny Maryam Achmad sebagai kado ulang tahun ke-66 suaminya. Apalagi, pada saat yang sama usia Ny Maryam berusia 55 tahun. “Mumpung angka kami sedang bagus-bagusnya. “Dengan tebal 164 halaman, buku yang diterbitkan oleh Penerbit Mimbar itu memang tak dipresentasikan sebagai sebuah biografi. Buku tersebut disunting oleh Amir Machmud NS, Agus Fathuddin Yusuf, dan Tavifrud Y.

Alhasil, kata seorang penyuntingnya, Amir, isinya merupakan rangkuman romantika hidup pria kelahiran 17 Agustus 1935 itu. Diharapkan anak-cucu bisa memetik nilai-nilai filosofi yang ada.

Peluncuran dilakukan secara simbolik dengan memberikan lima buku kepada orang-orang terdekat Achmad, yakni H Moenadi, anak sulungnya Saefudin, seorang guru SR-nya Soewignyo, dan adiknya H Umar Manshur. (Ganug Nugroho Adi-60)