Estetika Jurnalistik (Refleksi Teks Naratif, Tren Emoji, dan Praksis Etis)
Judul buku:
Estetika Jurnalistik (Refleksi Teks Naratif, Tren Emoji, dan Praksis Etis)
Penulis:
Amir Machmud
Halaman:
xvi+160
ISBN:
978-602-52809-4-8
Tahun terbit:
2019
Penerbit:
Mimbar Media Utama
Masa Depan Jurnalisme Bercerita
Buku yang ditulis Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah ini menjadi semacam alarm bagi wartawan sekarang. Penting, di tengah tuntutan memedomani kode etik dalam praktik berjurnalistik, satu hal yang tak boleh ditinggalkan wartawan adalah bagaimana menyajikan berita yang indah. Tidak hanya benar. Tapi juga enak dibaca.
Wartawan sendiri banyak disebut sebagai pelukis. Dia melukiskan peristiwa yang dia lihat dalam bentuk tulisan. Maka etika menjadi penting sekaligus menjadi prinsip-prinsip dasar yang menaungi praktik jurnalistik. Sedangkan, estetika menjadi perwujudan dari prinsip-prinsip dasar itu pada tataran hasil yang tampat indah dan bisa dinikmati panca indera. (hlm xi)
Sayangnya, perkembangan cara berjurnalistik sekarang cenderung mulai terasa mengabaikan keindahan. Terlebih dengan maraknya portal-portal berita online. Berita yang sampai ke pembaca lebih kepada mengutamakan kecepatan penyajiannya saja.
Gaya jurnalistik masa kini boleh disebut memahkotakan kecepatan unggahan. Praktik berjurnalistik naratif, imajinatif yang indah akhirnya menjadi terkesampingkan. Wartawan sudah tidak punya cukup waktu lagi bermain-main dengan penikmatan keindahan teks. (hlm 16)
Padahal seperti dituliskan Amir Macmud dalam bukunya yang lain, Biografi Jurnalistik (2016) materi atau peristiwa sepenting apapun, apabila ditulis dengan bahasa seadanya, maka fakta itu akan terkesan menjadi seadanya. Sebaliknya apabila peristiwa sederhana apabila ditulis dengan bahasa yang enak, runtut, bergaya, akan menjadi penting dan menarik perhatian pembaca.
Jurnalistik imaji dengan ciri khas kedalaman isi dan keindahan penyampaian tulisan, sejatinya tak boleh terpinggirkan oleh tren kebergegasan pengunggahan informasi dewasa ini, karena boleh jadi model-model itu yang akan menjadi pembeda kekuatan teks.
Karena itu estetika jurnalistik pada akhirnya akan mewujud sebagai internalisasi sikap untuk memilih : “jangan merasa cukup hanya dengan menulis benar”.
Buku yang ditulis wartawan yang sudah kenyang pengalaman (mulai dari menjadi wartawan lapangan, hingga menjadi pemimpin redaksi) ini menjadi sebuah permenungannya selama ini. Tulisan-tulisan dalam bukunya tersebut banyak mengungkap kegelisahan-kegelisahan tentang tulisan-tulisan imajinatif, naratif, bercerita yang mulai terpinggir. Celakanya wartawan-wartawan muda tidak begitu memahami. Melihat dari jawaban-jawaban ketika penulis buku melempar pertanyaan tentang nama-nama wartawan/penulis legendaris, macam Goenawan Mohamad, Leila S Chudori, Dahlan Iskan, TD Asmadi, hingga Budiarto Shambazy.
Amir Macmud sendiri memang termasuk salah satu wartawan senior yang cukup istiqomah menulis perihal tema-tema jurnalistik, yang bisa menjadi semacam buku pegangan bagi para jurnalis muda tentunya. Sebelumnya, selain menulis buku Biografi Jurnalistik, Amir juga menulis buku Adab Jurnalistik, sebuah buku tentang praktik etik dalam jurnalistik.
Sudah Jarang
Dalam bukunya ini, Amir Machmud banyak mengeluarkan kegelisahannya. Sudah jarang menemukan tulisan atau features berkekuatan sastrawi atau story telling. Narasi-narasi yang tersaji lebih mengandalkan magnet meteri informasi, bukan lantaran daya tarik tambahan berupa imaji dan magi sajian penulisan.
Amir menggaris bawahi, intinya adalah bercerita. Membuat sebuah peristiwa bercerita. Menarasikan berita atau tulisan dengan teks yang hidup merupakan jalan tengah untuk menyeimbangkan antara seni menuliskan kebenaran dengan seni membuat tulisan indah. (hlm 20)
Sebuah pesan yang sampai kepada penerima pesan, akan bermuatan bobot lebih, apabila pesan itu disajikan dengan kekuatan teks yang indah. Kemampuan mengajak seolah-olah hadir di lokasi peristiwa atau memotret fakta yang dihadirkan ke hadapan audiens menjadi faktor pembeda. Itulah bercerita.
Ahirnya, dari etika sebuah karya bergerak ke arah estetika. Dan estetika itulah yang menghadirkan eksotika. Maka menjadi tepat, selain alarm, buku ini hadir untuk menjadi permenungan para wartawan-wartawan kekinian agar menghasilkan karya jurnalistik yang indah, yang dituliskan secara naratif, imajinatif, bergaya sehingga mampu menahan lama-lama pembaca, untuk merasakan pengalaman sebuah peristiwa yang dipindahkan ke dalam sebuah tulisan.
Seperti laporan-laporan pertandingan olahraga yang dituliskan wartawan senior macam TD Asmadi, dimana imaji reportasenya mengajak dan membawa pembaca seperti berada di tengah atmosfir laga dan tribun di sebuah stadion.
Achmad Ulil Albab, alumni Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus, bergiat di Paradigma Institute (Parist) Kudus
Dimuat di Tribun Jateng pada Minggu 11 April 2020