Dari Makam Pragola ke Gerbang Majapahit (Terawang Batin Mbah Roso dan Jeng Asih)
Suara Merdeka, Minggu 24 Maret 2002
Adonan Mitologi Wisata Spiritua
Judul Buku: Dari Makam Pragola ke Gerbang Majapahit (Terawang Batin Mbah Roso dan Jeng Asih)
Narasumber: Drs H Imam Suroso dan Dra Hj Asih Marlina
Tim Penyusun: Tavifrudi dkk
Penerbit: Mimbar Media Utama
Cetakan: Pertama, 2002
Tebal Buku: vii + 148 halaman
ISBN: 979-9036-17-8
BUKU ini dapat berkelit secara cantik dari jebakan sekadar pengiventarisasi objek-objek wisata spiritual yang terdapat di wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia menyuguhkan keunikan tersendiri, karena mengadonkan dengan takaran proporsional dimensi mitologi dan dimensi metafisik, sehingga terasa kental atmosfer jejak animismenya.
Boleh dibilang, kehadirannya membukakan pintu pemahaman lebar-lebar terhadap misteri spiritual yang menjadi anutan —pinjam terminologi Clifford Geertz— kalangan abangan. Suatu kalangan yang biasanya menjadi wadah sinkretis animisme, Hindu, dan Islam. Suatu kalangan yang memang tak dapat dimungkinkan eksistensinya dalam komunitas etnik Jawa.
Karena itu tidak keliru, bila metode penyajian deskriptif setiap objek wisata spiritual tertata secara sistematis dalam dua pembabakan. Pertama, pemaparan mitologi sekitar keberadaan suatu objek wisata spiritual dengan rengkuh dominasi pengadopsian “sejarah” yang eksis di tengah-tengah masyarakat.
Meski demikian, ada juga sedikit imbuhan bumbu sejarah “resmi” yang berasa kedapatan dalam khazanah perbendaharaan referensi kaum akademisi. Kedua, pemaparan hasil terawang daya batin dua paranormal, Drs H Imam Suroso (Mbah Roso) dan Dra Hj Asih Marlina (Jeng Asih), atas mitos-mitos yang berkaitan dengan suatu objek wisata spiritual secara berangkai.
Realitas kepercayaan —biasanya lekat sebagai kiblat akidah kalangan abangan Jawa— tentang daya dukung roh tokoh-tokoh legendaris terhadap upaya metafisik dalam proses perjalanan pencarian harapan atau cita-cita peziarah, memperoleh ruang penerapan ritual pada sejumlah objek wisata spiritual dalam pustaka berkarakter unik ini.
Harapan atau cita-cita itu, antara lain kelancaran dalam kenaikan pangkat, ketumpahan dalam perolehan rezeki, kesembuhan atas suatu penyakit kronis, dan kelebat harap akan perolehan jodoh. Keberadaan Makam Nyi Ageng Ngerang, Punden Bakaran Wetan, dan Punden Eyang Sabarudin (untuk menyebut tiga contoh saja), jelas menyediakan area legitimasi terhadap kucuran aplikasi ritus seremon yang dinapasi realitas kepercayaan tersebut.
Ranah realitas kepercayaan di atas juga melebar hingga benda-benda yang diyakini membawa tuah, seperti keris dan pusaka di dekat Makam Sunan Prawoto, batuan berpahat di atas perbukitan sekitar Gunung Rowo yang dinaungi pohon beringin tua, gentong Kemiri, dan pintu gerbang Majapahit. Pun menggema ke tempat-tempat yang dikeramatkan berada dalam radius ranah ekspansi keyakinan, antara lain Gua Wareh, Sendang Widodari, dan Gua Pancur yang tidak luput dari sasaran ritual peziarahan mereka yang mencari realitas kepercayaan yang biasanya dianut kaum abangan tersebut.
Dari 13 objek wisata spiritual di wilayah Kabupaten Pati itu, terdapat Pulau Seprapat yang menunjukkan brutal cost of sacrifice. Betapa tidak? “Peziarah yang mencari pesugihan harus menjalin perjanjian gaib dengan danyang penunggu pulau keramat itu.
Intinya, peziarah akan terkabul cita-citanya, tapi harus menumbalkan nyawa anak atau keponakan, bahkan nyawanya sendiri. Roh atau arwah yang ditumbalkan itu kelak akan menjadi penghuni Pulau Seprapat dalam bentuk atau menjelma kera jadi-jadian.
Setelah pulang dari Pulau Seprapat, dalam kurun 40 hari anak atau keponakan yang ditumbalkan akan tewas mendadak secara mengenaskan, seperti akibat kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh…” (halaman 68-69).
Raut keunikan buku ini semakin tegas dengan imbuhan penelisikan dalam bingkai metafisik, supranatural, atau penerawangan batin. Mau bukti? Silakan simak dua paragraf berikut:Terhadap batuan berpahat di perbukitan sekitar Gunung Rowo yang dinaungi pohon beringin tua, Jeng Asih antara lain mengemukakan bahwa sebetulnya bebatuan berpahat yang terletak di wilayah Desa Setiluhur tersebut semula tidak ditunggi jin. Karena warga acap kali menghadang sesaji, lalu ada jin merayang (tidak memiliki tempat tinggal) yang kemudian menghuninya. “Jin ini sebetulnya tidak jahat. Tetapi bila diusik, jin itu akan marah. Tak hanya menggoda orang yang membuatnya marah, tetapi mengancam akan membuat kesadaran orang tersebut hilang sampai akhirnya menemui ajal.” (halaman 15).
Mbah Roso melalui akurasi penerawangan batinnya tatkala menyibak misteri Gua Pancur yang angker dan keramat membenarkan bahwa sejumlah makhluk halus memang menghuni tempat tersebut.
Sesungguhnya mereka tidak merefleksikan citra negatif terhadap manusia. Namun, “Jika kalangan kebatinan tidak waspada, bahkan tergiur oleh aura imitasi yang misalnya dipancarkan para genderuwo, maka bukan ilmu putih yang didapat melainkan ilmu hitam. Bukan kearifan yang diperoleh, melainkan keangkaramurkaan batin. Akhirnya mereka bergelimang dalam ilmu sesat yang tidak hanya menyesatkan dirinya saja tapi juga orang lain.” (halaman 113).
Demikianlah sebagian potret keunikan yang dilanskapkan lewat uraian di tubuh buku ini. Ia hanya sekadar mendeskripsikan realitas kepercayaan yang ada dalam tubuh komunitas etnik Jawa.
Tak ada upaya penetrasi —sekalipun dengan “logika spiritual” yang sarat metaphysics influence dan the most brilliant— agar pembaca mempercayainya. Ia hanya bertindak as a witness who write about it. Tidak kurang tidak lebih. (Jokomono-72)