SUARA MERDEKA

Selasa, 26 Desember 2006

Dari Diskusi Pro Kontra Poligami

“Mulailah Belajar Manajemen Syahwat”

DISKUSI POLIGAMI: Sri Humaini AS (tengah) didampingi Siti Fatimah Budiman (kanan) dan Evi Kusnindya (moderator), saat memaparkan pendapatnya dalam diskusi "Poligami Antara Pro dan Kontra" di Hotel Ciputra Semarang, baru-baru ini. (SM/Fahmi ZM).

DISKUSI POLIGAMI: Sri Humaini AS (tengah) didampingi Siti Fatimah Budiman (kanan) dan Evi Kusnindya (moderator), saat memaparkan pendapatnya dalam diskusi “Poligami Antara Pro dan Kontra” di Hotel Ciputra Semarang, baru-baru ini. (SM/Fahmi ZM).

JIKA tak ingin poligami terjadi, maka mulailah belajar ilmu manajemen syahwat. Saat mengantarkan hal itu, Yuniarti tak bermaksud bersenda gurau. Kendati hampir sebagian besar hadirin yang memenuhi Ruang Puri Suite Lantai 2 Hotel Ciputra Semarang menderai gelak tawa, mahasiswi berjilbab itu terus saja menceroocos. “Agar kaum laki-laki tidak mengumbar nafsu belaka. Jadi yang ditata dan dipelajari tidak saja manajemen Qolbu tapi juga manajemen syahwat,” tuturnya meyakinkan hadirin. Dan hadirin pun tak bisa menyembunyikan senyum simpulnya.Tak sedikit pula yang memberikan tepuk tangan berkepanjangan. Yuniarti adalah satu dari sekian puluh hadirin yang mengikuti diskusi “Pro Kontra Poligami”, yang digelar Penerbit Mimbar Mimbar, baru-baru ini.

Selang beberapa saat sebelum diskusi yang menghadirkan pembicara Sri Humaini AS (pemerhati masalah perempuan) dan Siti Fatimah Budiman SAg (tokoh LSM), serta dimoderatori Evi Kusnindya (redaktur Suara Merdeka), dilangsungkan peluncuran buku “Senarai Kisah Wanita Berprestasi Jateng 2006″ terbitan  Mimbar Media Utama oleh Hj Effi Mardiyanto. GayengMenyimak diskusi yang berjalan gayeng itu, rasa-rasanya hampir sebagian besar yang hadir tak begitu bersepakat dengan poligami, yang kini jadi polemik di masyarakat.

Selain Yuniarti, masih ada beberapa penanya yang nyata-nyata menolak tegas poligami.”Itu artinya kaum lelaki-lah yang diuntungkan. Padahal wanita itu sejatinya harus dimuliakan,” ungkap seorang penanya yang mengaku berasal dari Tegal.”Sampai besok pun diskusi ini tidak bakal selesai-selesai. Biarlah dimaknai sendiri-sendiri, tidak perlu diperpanjang. Yang pasti, ibu-ibu kita adalah hebat,” kata Muji Rahardjo, peserta diskusi asal Kebumen.Demi mendengar itu, Humaini menyodorkan sejumlah tips kalau tak boleh disebut solusi, agar poligami tak terjadi. Mengaitkan dengan manajemen syahwat yang dilontar Yuniarti, dia berseru. “Kaum suami harus bisa ‘memberdayakan’ istri. Untuk itu, pandai-pandailah para suami untuk tidak bikin capek istri.” Semata-mata agar istri tidak menolak tiap kali diajak berhubungan. Sehingga suami tidak lari ke wanita lain,” ungkapnya sembari menyebut keterbukaan sebagai kunci utama agar terhindar dari pertikaian. Dengan keterbukaan, bukan tidak mungkin masalah bisa terselesaikan hingga rumah tangga pun terselamatkan. “Kalau ada wanita yang mau dipoligami, itu dimaknai sebagai pengorbanan,” kata dia. Sementara Siti Fatimah Budiman dalam paparannya mengungkapkan, dalam pandangan Islam, poligami itu tidak dilarang tapi juga tidak dianjurkan. Meski demikian, dia mewanti-wanti, bahwasannya adil secara materi saja tidaklah cukup untuk dijadikan landasan melakukan poligami. (Fahmi Z. Mardiansyah-23)