Suara Merdeka

Kegairahan Bernarasi di Ruang Tekstual

Judul Buku: Biografi Jurnalistik

Penulis: Amir Machmud NS

Penerbit: Mimbar Media Utama Semarang

Cetakan: Pertama, 2016

Halaman: 162+xi hlm

KETIKA membaca kolom-kolom sepak bola di Rubrik “Free Kick” di harian Suara Merdeka Edisi Minggu, para pembaca seolah-olah berada di sebuah ruang tekstual. Di sana ada mimbar tempat Amir Machmud NS mengambil posisi. Dia memainkan peran sebagai orator yang mempresentasikan gagasan-gagasan dengan kegairahan bernarasi, meyakinkan lewat tekanan persuasif argumentatif. Dia pun memadukannya dengan kecerdasan rasa, menerangi nurani terdalam dengan cahaya humanitas: di balik industri sepak bola itu ternyata masih ada manusia.

Lain halnya manakala para pembaca mencermati buku ini. Kedua puluh enam tulisan di dalamnya menempatkan peran Amir sebagai sosok yang menyapa dengan akrab para jurnalis muda. Dia mengingatkan hal-hal substansial dalam praktik jurnalistik, tanpa terjebak ke perilaku menggurui. Terkadang, dia juga seolah ingin berbagi masa lalu dengan teman-teman sebaya, menelusuri kembali nostalgia monumental. Tidak jarang, dia juga menyebut para jurnalis pendahulunya, menghormati jasa-jasa mereka dalam perjalanan kariernya sebagai wartawan 30 tahun lebih.

Gaya Kepenulisan

Meski demikian, satu hal yang tak pernah ketinggalan dari sebagian besar tulisan Amir, yaitu kegairrahan bernarasi. Cara penyajian itulah yang begitu tampak menjadi ciri khas gaya kepenulisannya. Dengan takaran pas, dia pun memperkaya dengan data-data. Pakar komunikasi dan FISIP Undip, Dr Tumomo Rahardjo, menulis dalam kata pengantar, “Hasil kegiatan kewartawanan Amir Machmud disajikan dengan penuh data, menggunakan rujukan yang relevan, dan kaya pilihan kata (diksi), enak dibaca. Produk jurnalisme cerdas sekaligus indah.” (hal vii).

Statemen Dr Tumomo di atas memiliki relevansi dengan pandangan Amir terkait bahasa sebagai kemasan wajah jurnalisme. Dia mengemukakan, “Materi atau peristiwa sepenting apa pun, apabila ditulis dengan bahasa seadanya, akan menjadi seadanya pula. Sebaliknya, materi atau peristiwa yang sesederhana apa pun jika disajikan dengan bahasa yang enak, runtut, dan bergaya, akan menjadi penting dan menarik perhatian pembaca.” (hal 66).

Pada bagian lain, Amir menekankan, “Kini, dalam dinamika mediamorfosis, tidak lagi penting apa medianya: apakah koran, majalah, radio, televisi, atau online; karena yang lebih penting adalah bagaimana menuangkan ide-ide produk jurnalisme, yang antara lain membutuhkan kemampuan mengemas. Kekuatan bahasa adalah jawabannya.” (hal 68).

Jurnalis yang begitu peduli pada kekuatan bahasa itu meyakini panggilan kegairahannya bernarasi dapat menjadikan tulisannya merebut hati pembaca. Amir menghidupkan kembali dan tumpukan sejarah laga perdana Piala Dunia 1990 di Italia dengan keyakinan panggilannya itu: “Sore cerah di Giuseppe Meazza, 8 Juni 1990. Sorak bergemuruh menggetarkan dada saat dua kesebelasan (Argentina dan Kamerun) memasuki lapangan untuk primo partita (pertandingan perdana) Piala Dunia 1990. Bertambah riuh ketika perhatian penonton tertuju ke arah Diego Maradona, kapten Argentina yang melakukan pemanasan dengan mendemonstrasikan kepiawaian mengolah si kulit bundar. Seperti magi. Bola seolah lengket di kaki, bisa diapasajakan. Sesekali dipindah ke kepala dan punggung.” (hal 4 – 5).

Amir juga menghidupkan kegairahan bernarasinya dengan pengenalan yang dekat terhadap narasumber untuk memberi ruang yang lebih personal dalam tulisannya. Hal itu dia tunjukkan lewat “cinta pertamanya” dalam karier jurnalistiknya saat mewawancarai Budi Wahyono, legenda PSIS pada dekade 1980-an. (Jokomono-92)